SELAMAT DATANG DI BLOG KAMI, APABILA ADA PERTANYAAN SEPUTAR BLOG INI SILAHKAN TULIS DI KOLOM KOMENTAR,TERIMA KASIH

Jumat, 21 Januari 2022

PENERAPAN ASUHAN KEBIDANAN SECARA HOLISTIK BERBASIS TRI HITA KARANA DI PELAYANAN KESEHATAN TINGKAT DASAR

 Hasil penelitian menyajikan pemaparan tentang penerapan asuhan kebidanan berbasis THK di pelayanan kesehatan tingkat dasar. Berdasarkan data yang didapat menunjukan bahwa mayoritas responden 92% memiliki pemahaman yang baik terhadap konsep THK, karena

hampir seluruh responden mampu menjelaskan konsep THK dengan baik. Sekitar 8% responden yang kurang mengerti tentang konsep dan pengertian THK oleh karena responden tersebut merupakan penduduk asli Jawa, namun dalam penerapannya sudah mencerminkan konsep-konsep THK tersebut.

Mayoritas responden mengatakan bahwa dalam melakukan asuhan dan pelayanan kebidanan pada pasien sudah menjalankan prinsip-prinsip THK seperti memberikan    asuhan dengan mengedepankan nilai-nilai ketuhanan, kemanusian dan peduli terhadap lingkungan sekitar tempat pemberian pelayanan kebidanan.

Dari hasil observasi didapatkan bahwa bidan menjaga hubungan baik dengan Tuhannya seperti taat melakukan ibadah serta berdoa sebelum dan setelah memberikan pelayanan kesehatan, menjaga keharmonisan dengan sesama manusia seperti pada pasien yaitu dengan selalu menerapkan senyum, salam dan sapa serta rasa empati pada setiap keluhan pasiennya, serta menjaga lingkungan sekitar dengan menerapkan prinsip bersih, kering dan steril seperti cuci tangan dengan benar dan mendekontaminasi lingkungan maupun alat-alat terutama setelah kontak dengan sumber bakteri dan infeksi. Oleh karena itu akan terciptanya suasana yang nyaman, aman dan terhindar dari resiko infeksi.

Penerapan asuhan kebidanan yang berbasis tri hita karana di puskesmas Buleleng I, akan dijabarkan sebagai berikut:

1.          Hubungan harmonis dengan tuhan (parahyangan)

Aspek ini mengandung makna makna bahwa setiap individu harus selalu menciptakan hubungan yang baik dengan penciptanya agar kehidupan yang dijalani dapat berjalan dengan lancar, hubungan manusia dengan Tuhannya ini dapat diwujudkan    dalam     kegiatan persembahyangan sesuai dengan keyakinan masing-masing, selalu berbuat baik dan bersyukur.

Aspek parahyangan yang telah dilaksanakan oleh bidan di Puskesmas Buleleng I yaitu diantaranya adalah berdoa sebelum dan setelah melayani pasien sesuai dengan kepercayaannya masing-masing, khusus untuk bidan yang beragama  hindu           melaksanakan persembahyangan bersama sebelum memulai aktivitas di puskesmas dengan sarana dan prasarana yang telah mereka bawa, bahkan acara persembahyangan bersama dijadikan program rutin yang dilakukan terutama ketika ada hari-hari besar agama hindu di Bali.

Aktivitas persembahyangan bersama ini mampu mensugesti bidan maupun tenaga kesehatan lain di puskesmas Buleleng I dalam memberikan pelayanan kesehatan yang optimal dan paripurna dengan tujuan untuk keselamatan pasien, dan manfaatnya juga sudah di rasakan oleh pasien mengenai pelayanan tersebut. Aspek berikutnya adalah penggunaan ucapan/salam ketika berhadapan dengan pasien seperti ‘om swastiastu” salam dan sapa yang dilakukan bidan tersebut merupakan bentuk kecintaan bidan dengan tuhannya, sehingga selalu mengucapkan hal-hal baik yang berhubungan dengan tuhan dengan tujuan untuk menentramkan pasien dan mencoba mengontrol emosi agar bidan mampu menangani keluhan-keluhan pasien. Berpakaian adat bali setiap kamis juga merupakan pengamalan terhadap konsep parahyangan khususnya dalam hal penghormatan terhadap nilai budaya setempat yang bersumber dari nilai-nilai ketuhanan.

Berdasarkan teori yang ada dan hasil penelitian sudah berjalan sesuai teori sehingga perlu dipertahankan agar tetap dapat berjalan dengan baik. Untuk lebih mendisiplinkan program doa bersama dapat dilakukan dengan ditetapkan sebuah SPO pelaksanaan sembahyang atau doa bersama di Tempat Suci/ pura di Puskesmas sebelum melaksanakan tugas jaga, melengkapi sarana dan prasarana keperluan ibadah bagi pasien dan keluarga yang sedang dirawat, dan dan secara konsisten memberikan layanan tambahan berupa pelayan rohani pada hari besar keagaaman yang disesuaikan dengan keyakinan pasien.

 

1.          Hubungan harmonis dengan sesama manusia (Pawongan)

Pada aspek ini mengandung makna bahwa manusia harus memiliki rasa peduli terhadap sesamanya sehingga akan tercipta hubungan yang baik. Aspek ini tercermin dalam tindakan berkomunikasi seperti komunikasi antara bidan dengan pasien dan keluarganya, bidan dengan teman sejawat, bidan dengan atasan dan praktisi kesehatan lain yang telibat dalam pemberian pelayanan kesehatan.

Mayoritas responden bidan (100%) di puskesmas buleleng I ini telah menerapkan prinsip tersebut seperti selalu berkomunikasi dengan baik terhadap pasien dan atau keluarganya dengan selalu menginformasikan hasil pemeriksaan kepada pasien dan keluarganya, yang mana hal tersebut juga tertuang dalam hak-hak pasien yaitu berhak mendapatkan informasi terkait dirinya (Porwoastuti & Walyani, 2017). Selain itu pemberian informed choice (pemilihan terhadap metode pemeriksaan yang dibutuhkan  oleh pasien) dan informed consent (permintaan persetujuan/ izin atas tindakan yang akan diterima oleh pasien) kepada pasien, yang juga merupakan hak pasien.

Komunikasi dalam pelayanan kebidanan merupakan salah satu bentuk asuhan sayang ibu yang tertuang dalam program APN (asuhan persalinan normal), yang mutlak harus diterima oleh pasien. Asuhan sayang ibu yaitu asuhan yang diberikan tanpa mengesampingkan budaya pasien yang dianutnya. Salah satu bentuk komunikasi dalam asuhan sayang ibu yaitu memanggil pasien dengan namanya, memberi informasi klien setelah melakukan pemeriksaan, melakukan informed choice dan atau informed consent saat akan melakukan tindakan.

Bidan mampu mengenali pasien dengan baik, memanggil pasien dengan namanya, memanggil nama suami dengan namanya, selalu berkomunikasi sambil menatap mata pasien penuh kelembutan saat melakukan pemeriksaan. Hubungan antara bidan dengan sejawat juga terjalin dengan baik, terlihat dari kolaborasi/ kerjasama yang dilakukan oleh bidan baik dengan teman sejawat bidan, perawat, dokter yang ada di puskesmas Buleleng I dalam menangani pasien maupun rujukan dengan tempat pelayanan kesehatan yang lebih tinggi seperti keadaan kedaruratan dan tindakan medis yang memerlukan fasilitas yang lebih lengkap. Keseluruhan bagian tersebut telah terlaksana dengan baik dan terstruktur. Selain itu aspek ini juga menekankan, bagaimana bidan menjaga kerahasian informasi atau hasil pemeriksaan pasien terhadap orang lain (yang bukan keluarga).

Menjaga kerahasian pasien adalah sumpah  dan janji profesi bidan   dan merupakan bentuk tanggung jawab bidan terhadap tugasnya, untuk melindungi hal tersebut                   tenaga  bidan di  puskesmas Buleleng I memiliki komitmen bahwa catatan riwayat kesehatan termasuk data pasien, tidak akan pernah dibocorkan kepada orang lain, kecuali diminta oleh pasien sendiri dan kebutuhan di pengadilan  maupun kebutuhan pemeriksaan.  

Terlihat dari sistem perekaman catatan medik di Puskesmas Buleleng I yang tersimpan rapi dan aman, catatan  tersebut tidak boleh    difoto, digandakan dengan tujuan disebarluaskan. Pemberian asuhan kebidanan di puskesmas    Buleleng  I  juga  telah dilaksanakan sesuai  dengan    Standar Operasional                  Prosedur  (SOP)/Standar asuhan yang telah di pasang disetiap ruangan                                tindakan medis seperti prosedur-prosedur tindakan medis. Kewenangan bidan dalam menjalankan praktek memberikan pelayanan kebidanan diatur dalam Permenkes 28 tahun 2017 dan UU Kebidanan NO 4 Tahun 2019.

Bidan di puskesmas Buleleng I mayoritas telah melaksanakan pelayanan sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya sebagai bidan, yaitu memberikan asuhan kepada ibu dan anak mulai dari masa dalam kandungan, remaja sampai memasuki masa menopause yang bersifat fisiologis dimana bertugas di ruang poliklinik KIA/KB (kesehatan ibu dan anak/keluarga berencana) dan poliklinik anak/ tumbuh kembang. Namun


ada beberapa bidan yang ditugaskan di UGD dan menangani pasien umum dan bersifat kegawatdaruratan. Walaupun  salah satu aspek telah terpenuhi seperti berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain, namun bidan tersebut tidak bekerja sesuai dengan kewenangannya. Karena melayani pasien, yang bukan pasien kebidanan dan bersifat kegawatdaruratan.

Bidan di pelayanan kesehatan tingkat dasar harusnya hanya melakukan asuhan kebidanan untuk kasus-kasus kebidanan yang sifatnya fisiologis. Kasus yang patologis dan gawat darurat dilakukan rujukan ke fasilitas yang lebih lengkap seperti rumah sakit. Kasus yang bukan menjadi tanggung jawab bidan sebaiknya dapat di kolaborasikan maupun dirujuk secara horizontal, ke tenaga kesehatan yang lebih berwenang yang ada di Puskesmas Buleleng I dengan aturan-aturan dan ketentuan yang berlaku.

 

1.    Hubungan harmonis dengan lingkungan (Palemahan).

Pada aspek ini, mengandung makna bahwa setiap manusia harus dapat menjaga hubungan baik dengan lingkungan sekitarnya agar tercipta suasana yang aman, nyaman dan tentram, keadaan ini juga dapat mempengaruhi keadaan psikologis seseorang. Dalam pelayanan kesehatan/kebidanan aspek ini tercermin dari tindakan penanganan sampah medis dan non medis untuk pencegahan infeksi, kebersihan diri dan lingkungan, pemprosesan alat-alat medis habis pakai (dekontaminasi alat dan ruangan), dan pemanfaatan tanaman obat untuk obat-obat tradisional juga merupakan tindakan untuk menjaga dan memelihara lingkungan sekitar.

Lingkungannya sebagai suatu sistem yang dikendalikan oleh nilai keseimbangan dan diwujudkan dalam bentuk prilaku. Seseorang dapat berperilaku dengan baik apabila tempat dan lingkunganya mendukung, tetapi pada kenyataanya lingkungan kerja tidak mendukung dalam hal kelengkapan sarana akhirnya berdampak pada lingkungan pasien. Pencegahan infeksi merupakan hal penting dan utama dalam menangani pasien. Pencegahan infeksi bertujuan untuk mencegah penularan penyakit dari pasien ke bidan ataupun sebaliknya sehingga semua pasien dianggap memiliki penyakit menular dan bidan juga berpersepsi bahwa dirinya juga mampu menularkan penyakit ke pasiennya.

Dari hasil penelitian ditemukan bahwa kondisi lingkungan di Puskesmas Buleleng I telah terjaga dengan baik, pengelolaan sampah sudah dilakukan dengan benar. Semua responden telah melakukan pencegahan infeksi seperti bidan selalu cuci tangan sebelum dan setelah melakukan tindakan medis, menggunakan alat pelindung diri ketika bersentuhan dengan pasiennya seperti sarung tangan dan masker (APD minimal), merendam alat-alat habis pakai dalam larutan dekontaminasi (klorin 0,5%) dan melakukan steril alat menggunakan sterilisator yang telah tersedia di Puskesmas Buleleng I.

Bidan telah memproses alat-alat sekali pakai dengan benar, yaitu terlihat dengan selalu membuang sampah dengan memisahkannya dengan benda tajam


seperti jarum suntik yang dibuang kedalam safety box, sampah medis seperti sampah yang bersentuhan langsung dengan cairan, darah,  tinja,  kencing  yang beresiko infeksius dibuang ke tempat sampah medis. Sampah non medis seperti kertas, plastik dan bahan bahan yang tidak infeksius atau terpapar langsung dengan pasien dibuang ke tempat sampah non medis. Setelah sampah telah terkumpul bagian pengelola sampah yang telah menjadi bagian dari tenaga oprasional yang ada di Puskesmas Buleleng I akan memprosesnya dengan SOP pemprosesan dan pembuangan alat-alat medis dan telah MOU dengan pihak Rumah sakit terkait pengelolaan sampah medis dan tajam.

Puskesmas Buleleng I telah memiliki program untuk menjaga kebersihan lingkungan, seperti setiap jumat setelah olahraga pagi tenaga kesehatan termasuk bidan melakukan kegiatan pembersihan di setiap ruangan dan lingkungan sekitar Puskesmas, untuk mencegah penyebaran penyakit terutama yang menular.

Pemanfaatan tanaman obat yang merupakan salah satu aspek dari palemahan, yang dapat digunakan untuk obat-obatan tradisional belum terlaksana oleh karena situsasi dan kondisi di Puskesmas Buleleng I yang tidak mendukung adanya tanaman obat. Seluruh tindakan pencegahan infeksi dan pengelolaan sampah telah diatur dan tertuang dalam SOP yang terpampang disetiap sudut puskesmas Buleleng I. Pengelolaan sampah harus dilakukan dengan benar.
SOP dan aturan serta program-program yang dimiliki oleh puskesmas secara umum sudah sesuai dan memuat konsep-konsep THK miskipun secara tertulis belum termuat tentang THK. Mayoritas Bidan telah menerapkan aspek-aspek tersebut dalam penerapan dan pelaksanaan asuhan kebidanan secara holistik dengan memperhatikan kebutuhan pasien            dalam   segi bio-psiko-sosial-kultural dan spiritual.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar